Decision Making adalah
serangkaian algoritma yang dirancang dengan memasukan beberapa kemungkinan
langkah yang bisa diambil oleh suatu aplikasi, Pada game ini decision makingmemberikan
kemampuan suatu karakter untuk menentukan langkah apa yang akan diambil.Decision
making dilakukan dengan cara menentukan satu pilihan dari list
yang sudah dibuat pada algoritma yang dirancang. Algoritma decision
making kerap digunakan dalam aplikasigame, akan
tetapi algoritma decision making dapat diimplementasikan
pada banyak aplikasi lain.
Decision Making terbagi menjadi 3 :
Decision Tree, State Machine dan Rule System
Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan bagian Decision
Tree terlebih dahulu.
Decision Tree
Pohon Keputusan (Decision
Tree) merupakan metode klasifikasi dan prediksi yang sangat kuat dan
terkenal. Metode pohon keputusan mengubah fakta yang sangat besar menjadi pohon
keputusan yang merepresentasikan aturan. Aturan dapat dengan mudah dipahami
dengan bahasa alami. Aturan ini juga dapat diekspresikan dalam bentuk bahasa
basis data seperti SQL untuk mencari record pada
kategori tertentu. Pohon keputusan juga berguna untuk mengeksplorasi data,
menemukan hubungan tersembunyi antara sejumlah calon variabel input dengan
sebuah variabel target. Karena pohon keputusan memadukan antara eksplorasi data
dan pemodelan, pohon keputusan ini sangat bagus sebagai langkah awal dalam
proses pemodelan bahkan ketika dijadikan sebagai model akhir dari beberapa
teknik lain(J R Quinlan, 1993).
Dalam situasi lain kemampuan
untuk menjelaskan alasan pengambilan keputusan adalah sesuatu yang sangat
penting. Misalnya pada perusahaan asuransi ada larangan resmi untuk
mendeskriminasi berdasarkan variabel-variabel tertentu. Perusahaan asuransi
dapat mencari sendiri keadaan yang mencerminkan bahwa mereka tidak menggunakan
deskriminasi yang ilegal dalam memutuskan seseorang diterima atau ditolak.
Sebuah pohon keputusan adalah sebuah struktur yang dapat digunakan untuk
membagi kumpulan data yang besar menjadi himpunan-himpunan record yang
lebih kecil dengan menerapkan serangkaian aturan keputusan. Anggota himpunan
hasil menjadi mirip satu dengan yang lain dengan masing-masing rangkaian
pembagian. Sebuah model pohon keputusan terdiri dari sekumpulan aturan untuk
membagi sejumlah populasi yang heterogen menjadi lebih kecil, lebih homogen
dengan memperhatikan pada variabel tujuannya. Sebuah pohon keputusan mungkin
dibangun dengan seksama secara manual, atau dapat tumbuh secara otomatis dengan
menerapkan salah satu atau beberapa algoritma pohon keputusan untuk memodelkan
himpunan data yang belum terklasifikasi (Tan dkk, 2004).
Variabel tujuan biasanya
dikelompokkan dengan pasti dan model pohon keputusan lebih mengarah pada
perhitungan probabilitas dari masing-masing record terhadap
kategori-kategori tersebut, atau untuk mengklasifikasi record dengan
mengelompokkannya dalam satu kelas. Pohon keputusan juga dapat digunakan untuk
mengestimasi nilai dari variabel kontinyu, meskipun ada beberapa teknik yang
lebih sesuai untuk kasus ini.
Kelebihan dari metode pohon keputusan adalah:
1.
Daerah pengambilan keputusan yang sebelumnya kompleks dan sangat
global, dapat diubah menjadi lebih simpel dan spesifik
2.
Eliminasi perhitungan-perhitungan yang tidak diperlukan, karena
ketika menggunakan metode pohon keputusan maka sampel diuji hanya berdasarkan
kriteria atau kelas tertentu
3.
Fleksibel untuk memilih fitur dari node internal yang berbeda, fitur yang terpilih
akan membedakan suatu kriteria dibandingkan kriteria yang lain dalam node yang sama. Kefleksibelan metode pohon
keputusan ini meningkatkan kualitas keputusan yang dihasilkan jika dibandingkan
ketika menggunakan metode penghitungan satu tahap yang lebih konvensional
4.
Dalam analisis multivarian, dengan kriteria dan kelas yang
jumlahnya sangat banyak, seorang penguji biasanya perlu mengestimasikan baik
itu distribusi dimensi tinggi ataupun parameter tertentu dari distribusi kelas
tersebut. Metode pohon keputusan dapat menghindari munculnya permasalahan ini
dengan menggunakan kriteria yang jumlahnya lebih sedikit pada setiap node internal tanpa banyak mengurangi kualitas
keputusan yang dihasilkan.
Kekurangan pada pohon keputusan adalah:
1.
Terjadi overlapping terutama
ketika kelas-kelas dan kriteria yang digunakan jumlahnya sangat banyak. Hal
tersebut juga dapat menyebabkan meningkatnya waktu pengambilan keputusan dan
jumlah memori yang diperlukan
2.
Pengakumulasian jumlah kesalahan dari setiap tingkat dalam
sebuah pohon keputusan yang besar
3.
Kesulitan dalam mendesain pohon keputusan yang optimal
4.
Hasil kualitas keputusan yang didapatkan dari metode pohon
keputusan sangat tergantung pada bagaimana pohon tersebut didesain.
Pohon keputusan adalah model prediksi menggunakan struktur pohon
atau struktur berhirarki.
Setiap percabangan menyatakan kondisi yang harus dipenuhi dan
tiap ujung pohon menyatakan kelas data. Contoh pada Gambar diatas adalah
identifikasi pembeli komputer. Dari pohon keputusan tersebut diketahui bahwa
salah satu kelompok yang potensial membeli komputer adalah orang yang berusia
di bawah 30 tahun dan juga pelajar. Setelah sebuah pohon keputusan dibangun
maka dapat digunakan untuk mengklasifikasikan record yang belum ada kelasnya.
Dimulai dari node root, menggunakan tes terhadap atribut dari record yang belum
ada kelasnya ini lalu mengikuti cabang yang sesuai dengan hasil dari tes
tersebut, yang akan membawa kepada internal node (node yang memiliki satu
cabang masuk dan dua atau lebih cabang yang keluar), dengan cara harus
melakukan tes lagi terhadap atribut atau node leaf. Record yang kelasnya tidak
diketahui kemudian diberikan kelas yang sesuai dengan kelas yang ada pada node
leaf. Pada pohon keputusan setiap simpul leaf menandai label kelas. Proses
dalam pohon keputusan yaitu mengubah bentuk data (tabel) menjadi model pohon
(tree) kemudian mengubah model pohon tersebut menjadi aturan (rule) (J R
Quinlan, 1993).
Salah satu algoritma induksi pohon keputusan yaitu ID3
(Iterative Dichotomiser 3). ID3 dikembangkan oleh J. Ross Quinlan. Dalam
prosedur algoritma ID3, input berupa sampel training, label training dan
atribut. Algoritma Decision Tree C4.5 merupakan pengembangan dari ID3.
Sedangkan pada perangkat lunak open source WEKA mempunyai versi sendiri dari
C4.5 yang dikenal sebagai J48.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar